Mendadak Game Komputer

August 23rd, 2008 by renaisanto

Sekarang ini perkembangan dunia
game komputer sedang menunjukkan tren yang meningkat, semakin banyak
orang dari bermacam usia, mayoritas dari usia sekolah yang suka
memainkan game bahkan kecanduan bermain game, baik pada komputer PC
maupun konsol seperti playstation, xbox, atau nintendo.

Industri
game sendiri mempunyai efek pengungkit yang sangat besar bagi industri
hardware komputer, dimana mereka memacu perkembangan teknologi
processor, chipset, motherboard maupun graphics card menjadi semakin
canggih saja, dimana untuk memainkan game masa kini memerlukan hardware
yang haus kekuatan, sedangkan untuk keperluan sehari-hari atau aplikasi
office, sebenarnya hanya membutuhkan kemampuan hardware yang standar
saja.

Kalangan profesional desain
grafis, video maupun animasi 3D memang membutuhkan hardware yang
mumpuni untuk bekerja, akan tetapi populasi mereka tidaklah terlalu
besar, sehingga yang benar-benar menggerakkan industri hardware
komputer adalah permintaan dari mayoritas pasar yaitu para gamers itu
tadi.

Yang bikin saya cukup prihatin adalah, game center - game center
yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan dimana memiliki target pasar
anak-anak usia sekolah mulai dari SD, SMP, SMA sampai Kuliah ini,
sering mengiming-imingi para pelanggannya dengan paket-paket happy hour
di jam sekolah, paket hemat sekian jam, bahkan paket menginap dengan
tujuan mendapatkan pendapatan yang sebesar-besarnya dari para pelanggan.

Efek negatif dari bermain game adalah kecanduan, sesuatu yang
berlebihan apapun itu adalah tidak baik, kesepakatan dan pembatasan
waktu bermain bagi anak bila tidak disertai dengan komitmen tinggi
biasanya hanya dipatuhi pada awal-awalnya saja dan pada akhirnya sering
dilanggar.

Hampir sama seperti narkoba, kondisi kecanduan bermain game membuat
seseorang yang mengalaminya akan melakukan apa saja untuk memenuhi
kebutuhan yang membuatnya kecanduan itu, sehingga tidak heran kalau
saya sering mendengar banyak anak yg bolos sekolah, mencuri, berbohong
dsb untuk bermain game di game center.

Profesi saya saat ini adalah sebagai marketer di sebuah vendor
hardware (motherboard & vga), jika melihat dari tren pasar yang ada
maka keputusan yang paling rasional dalam melakukan promosi adalah
melalui game center kepada para pelanggannya, namun secara etis, saya
tidak menyukainya dan memutuskan untuk tidak melakukannya. Perlu ada aturan-aturan yang ditegakkan bagi game-game center ini untuk melindungi para konsumennya dari efek negatif bermain game.

Lets Go Green

April 25th, 2008 by renaisanto

Demam "Go Green" akhir-akhir ini cukup bikin saya kagum, baru sadar bahwa ternyata edisi terbaru PC Media (05/2008) yang covernya serba hijau ini dalam rangka memperingati the earth day.

Juga perubahaan logo Google yang sudah tradisi tematik mengikuti peringatan hari-hari tertentu, para produsen motherboard komputer juga sekarang berlomba-lomba untuk go green, seperti ASUS, dan Gigabyte, walaupun saya ragukan motifnya apakah lebih besar untuk publikasi dan marketing brand masing-masing, sisi positifnya, gerakan untuk penyelamatan bumi diuntungkan apapun motifnya.

Mestinya gerakan ini harus diikuti dengan langkah-langkah kongkret kalau mau memberikah hasil yang baik untuk warisan buat anak cucu.
Paling tidak, kesadaran (awareness) nya sudah cukup terbangun.

Menurut salah satu teori marketing yaitu AIDA (awareness, interest, desire, action), awareness adalah tahapan pertama dalam usaha memasarkan suatu produk atau jasa, dalam hal ini sih kayaknya sudah cukup berhasil. Tujuannya kan agar orang-orang mau membeli produk ini (melakukan tindakan-tindakan untuk menyelamatkan bumi), cuma sepertinya yang sulit tahap-tahap berikutnya itu.

Apa iya, ketika sudah disodorkan pada pilihan, beli sayuran organik yang tidak menggunakan pupuk kimia, daripada yang biasa dengan beda harga 2-3x lipat, semua dari kita dengan rela mau melakukannya. Memilih membeli mobil hybrid daripada mobil biasa yang harganya 2-3x lipat juga dari mobil biasa. Apalagi para cukong pemilik modal yang punya pabrik besar dengan cerobong asap menjulang di langit  dan beroperasi selama 24 jam penuh untuk mengejar keuntungan semaksimal mungkin, apakah mereka rela menutup pabriknya yang bernilai jutaan dolar. Kayaknya sih, banyak yang bakal menjawab EGP, emang gue pikirin, bukan gue ini yang terkena akibatnya, 50 tahun lagi gue paling udah mati, sekarang kalo air tanah  jelek, kita bor aja lebih dalam, dan lebih dalam lagi tahun depan. Polusi udara, kan ada AC di mobil, di kantor dan di rumah. Kalau beruang kutub banyak yang mau mati akibat perubahan iklim, bukan urusan gue, lihat saja belum pernah.

So, kamu mau jadi yang mana? beruang kutub? kaciaan deh lu…

—————-
Now playing: The Rock - Aku Bukan Siapa Siapa (Slow Version)
via FoxyTunes   

Internet butut

January 11th, 2008 by renaisanto

Baru-baru ini saya belajar investasi reksadana lewat internet (http//:portalreksadana.com/)
Berjumpa lagi dengan teman-teman yang sudah sangat lama tidak ketemu, mencari-cari & memperbandingkan harga gadget di internet, mengorganisasikan reuni sekolah lewat internet juga.
I become addicted to internet.

Terima kasih kepada kantorku, saya bisa selalu terhubung ke dunia maya setidaknya 10,5 jam sehari.
Kurang puas, saya sambung lagi lewat instant messaging lewat ponsel dan dial up di rumah pada sisa harinya, I really addicted now.
But, Damn it, sekarang akses internet lagi lambat banget, biasanya di kantor lumayan cepet pake telkom speedy, tapi sekarang pusiiing deh lambatnya. Belum lagi telkomnet instan yang seperti siput, juga gprs yang mending ngga usah deh buat surfing. Boro-boro mo streaming video di you tube, buka email aja setengah mati. Hal ini juga menghambat produktifitas, mo kirim email aja lama.
Harapan saya satu-satunya dan kayanya ngga bisa ditunda lagi cuma jaringan 3G dari provider selular, kalau broadband internet yang lain, nggak terjangkaulah untuk kantong saya. Cuma ada satu hambatan kecil *#@!!!?! Rumah gua belum tercover sama jaringan 3G mereka, padahal udah di Jakarta juga. Ternyata di Jakarta pun, belum semua wilayah bisa menikmati sinyal 3/3.5G dari provider-provider tersebut. Padahal jika jadi berlangganan layanan 3G, saya sudah membayangkan akan bisa menikmati broadband internet lewat ponsel ataupun sebagai modem untuk surfing lewat notebook, dan  bisa video berstreaming ria serta menikmati kecanggihan web 2.0.
Jauh banget kondisinya sama beberapa teman yang saat ini sedang berada di luar negri (negara-negara barat maupun tetangga). Mereka bisa menikmati internet yang jauh lebih cepat dan lebih murah, pantas saja disana komunitas internetnya berkembang sangat pesat.
Tanya kenapa? Hayoo kenapa…

Gelombang gelombang kemacetan

December 25th, 2007 by renaisanto

Macet kok pakai gelombang-gelombang, seperti laut saja yang sekarang gelombang pasangnya sedang melanda daerah muara baru di jakarta. Tapi benar lho, ternyata kalau saya perhatikan, kemacetan di jakarta ada gelombang-gelombangnya, berdasarkan waktu di pagi dan sore hari.
Misalkan di pagi hari, pada hari kerja biasa, rumah saya berada di bilangan jakarta timur dengan tempat kerja saya berada di daerah kota lama jakarta utara. Jika saya berangkat jam 7.00 yang jelas kepagian karena jam masuk kantor adalah jam 9.00, perjalanan bisa memakan waktu 1,5 jam, bila berangkat jam 7.30 maka waktu tempuhnya 30 menit, tetapi jika berangkat jam 7.45 maka waktu tempuhnya sekitar 45 menit dan jika berangkat jam 8.00 maka waktu tempuhnya adalah 1 jam lebih yang artinya saya terlambat. Oleh karena itu paling menghemat energi bila saya berangkat kerja jam 7.30, hanya saja saya sampai terlalu pagi di kantor (8.00), untuk mengisi waktu bisa mengepel lantai dahulu mungkin hahaha                                                                                                                                                                                                                                                                           

portalreksadana.com

December 14th, 2007 by renaisanto

Beberapa hari terakhir ini, saya giat mempelajari tentang investasi di reksadana. Saya pikir, kalau saya sudah merasa cukup tahu baru akan mencoba mencicipi gimana sih rasanya berinvestasi di sini. Ternyata tanpa sadar saya sudah ikut reksadana dan berinvestasi di dalamnya. Koq bisa, iya ternyata selama ini asuransi pendidikan untuk si kecil Isra adalah jenis unit-linked, yang preminya di investasikan di reksadana saham dan campuran oleh perusahaan asuransinya. Waktu itu memang saya dengan keputusan sendiri memilih jenis asuransi unit-linked, tapi keputusan itu diambil dengan ringan saja tanpa terlalu banyak dipikirkan.
Singkat kata sekarang saya adalah investor reksadana, hanya dari jenis yang kurang canggih, karena tidak mau repot-repot berfikir dan mengurusi naik turunnya NAB, indeks IHSG dan sebagainya, hahaha, moga-moga aja nilainya nanti tidak mengecewakan jika sudah saatnya jatuh tempo.
Sampai akhirnya tanpa sengaja saya menemukan http://portalreksadana.com/
hasil jerih payah teman baik saya di Yogya yang dengan sukarela mengerahkan daya dan keringat pada waktu luangnya yang sedikit untuk mencerahkan orang lain. Isinya lumayan bagus, apalagi dia sudah berusaha bersusah payah memberikan berbagai macam statistik real time dari pasar saham. Gratis lho, situs ini memang khusus buat yang mau dan baru belajar untuk berinvestasi dengan lebih cerdas, cita-citanya sih luhur banget deh, mau memperkuat kelas menengah di Indonesia. Sekarang ini dengan dana yang terbatas yaitu kurang dari 1 juta rupiah sudah bisa belajar berinvestasi di reksadana. berinvestasi Reksadana sederhananya adalah berinvestasi pada campuran atau istilahnya portofolio deposito, obligasi, pasar uang dan saham.  Untuk itu  kita mempercayakan investasi kita pada perusahaan manajer investasi (contoh tapi bukan mengiklankan ya: trimegah, manulife, mandiri securities dsb). jenis-jenis reksadana ada bermacam-macam yaitu rd berpendapatan tetap, rd pasar uang, rd campuran dan rd saham tergantung komposisi jenis portofolio diatas, well, untuk lebih jelasnya coba aja akses ke situs portalreksadana

Dual core processing, can we human do it?

December 11th, 2007 by renaisanto

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Dalam
kesibukan kerja maupun sehari-hari, saya seringkali dihadapkan pada
setumpuk pekerjaan yang harus dilakukan, masing-masing dengan masalah
dan deadlinenya sendiri. Biasanya saya mencoba untuk mengerjakan
semuanya secara bersamaan dengan harapan semuanya akan selesai
bersamaan pula dan menghemat waktu keseluruhan yang diperlukan. tapi
bener ngga sih memang seperti itu?

Contohnya
ketika saya sedang makan siang ini, pikiran saya melayang ke konsep
surat yang harus saya selesaikan jam 2 nanti, strategi bernegosiasi
dengan media sore ini dan bahan meeting dengan boss sebelum pulang.
Atau, pernah lihat orang yang sms-an sambil nyetir mobil atau terima
telepon sambil mengendarai motor dengan 1 tangan,  selain
membahayakan orang lain mereka pasti melambatkan kendaraannya, saya
tentu nggak mau menempatkan kendaraan saya dibelakang orang ini,
selain terhambat tentu berbahaya jika ia menginjak rem mendadak
karena terlambat mengantisipasi hambatan di depan.

kembali ke
contoh ketika saya makan siang, saya seringkali selesai makan paling
akhir daripada teman-teman yang lain sehingga hanya ada sedikit waktu
untuk istirahat sejenak dan sholat dhuhur sebelum mulai bekerja
kembali, masih untung saya tidak merokok seperti teman-teman yang
lain sehingga menghemat sedikit waktu.

Berdasarkan
pengalaman saya ini, saya menyimpulkan bahwa aktifitas multitasking
kita gagal total, bukannya menghemat waktu malah menambah waktu,
hasilnyapun seringkali tidak maksimal. Tidak seperti intel dengan
janjinya mengerjakan multi tugas secara simultan dengan processor
dual corenya.

Tapi tunggu
dulu, bukankan otak manusia ada dua bagian, kiri dan kanan,
seharusnya dengan pelatihan tertentu, masing-masing dapat mengerjakan
tugas yang berbeda pada waktu yang bersamaan.

Well,
sudah pernah mencoba menggambar lingkaran dengan tangan ki
ri
serta tangan kanan menggambar kotak secara bersamaan atau tangan kiri
menggosok lutut maju mundur serta tangan kanan memukul-mukul lutut
secara bersamaan. Susah ya.

Saya
tidak meremehkan kemampuan otak manusia yang sangat luar biasa,
sangat mungkin ada seseorang yang bisa melakukan ini dengan baik,
karena tingkat kecanggihan otaknya atau latihan keras, tapi yang
jelas otak saya yang biasa-biasa saja ini sudah menolak melakukannya.
So, lebih baik saya melakukan semuanya secara berurutan

atau orang bilang sequential, mungkin kata-kata sederhananya adalah
fokus. Itu artinya ketika saya makan seluruh perhatian saya curahkan
pada proses makan tersebut, mengunyah dengan baik, makan secara cepat
dan memperhatikan lauk-pauk yang dimakan. Walaupun ini adalah sebuah rutinitas, boring maybe tapi seharusnya bisa lebih berkualitas. Saya bisa selesai makan lebih cepat, lebih sehat (seharusnya), dan setelah itu bisa fokus lagi ke masalah berikutnya

Human autopilot

December 10th, 2007 by renaisanto

Pagi  ini saya menjalani rutinitas harian seperti biasa, mulai bangun di pagi hari, persiapan berangkat ke kantor, memanaskan kendaraan dan akhirnya mulai mengarungi lautan kemacetan menuju tempat kerja. Tiba-tiba saja ketika mendapatkan kesadaran sepenuhnya lagi ternyata saya telah tiba dikantor dengan selamat. tau sih ketika melewati jalan-jalan yg ruwet itu, tapi semuanya sepertinya berjalan begitu saja tanpa terlalu banyak campur tangan otak sadar, hal ini sudah saya alami berkali-kali.
Kalau dipikir-pikir, saat kali pertama berkendara dari rumah ke kantor, perhatian saya benar-benar dipusatkan pada perjalanan tersebut. Mulai dari arah yang mesti diambil, rambu-rambu lalu lintas maupun menghindari kendaraan yang menuju arah lain, tapi saat ini sudah tidak terpikirkan lagi.
Saya merasa otak saya telah terprogram dengan rute perjalanan ini, sehingga  kendali perjalanan dari rumah ke kantor telah diambil oleh otak bawah sadar, adapun ketika menghadapi rintangan yang tidak biasa, seperti ada galian telepon di jalan, maupun pembangunan Busway, otak sadar langsung tergugah dan secara mulus mengambil alih kendali selebihnya kembali ke mode kendali bawah sadar.
Ternyata manusia dikaruniai kemampuan autopilot oleh Sang Maha Pencipta, terima kasih Tuhan, setidaknya ini membantu saya mengurangi stress akan perjalanan dari rumah ke kantor setiap harinya.

Tips memilih UFD (Part 2)

November 30th, 2007 by renaisanto

O iya sebelum membeli UFD (USB Flash Disk), coba perhatikan juga hal2 berikut:
    Kapasitas penyimpanan, mungkin kita sekarang sudah puas dengan kapasitas UFD yang kita miliki, tapi tren kedepan kapasitas ini akan semakin besar dan murah harganya. Yang penting kita perhatikan harga/mb nya. Mungkin yang paling ekonomis sekarang ada pada kapasitas 1-2 GB.
    Ukuran dan kekokohan casing, semakin kompak ukuran UFD tentu semakin baik, tapi ada kekurangannya juga kalau terlalu kecil. Mudah hilang kan? Yang jelas dia harus kokoh dan bisa menerima benturan2 dan guncangan selama masa pemakaiannya.

Tips Membeli USB Flashdisk

September 19th, 2007 by renaisanto

Berdasarkan pengalaman, gue mo berbagi beberapa tips penting dalam membeli usb flashdisk buat temen-temen yang merasa agak awam buat soal kayak gini, yaitu sbb:

1. Jangan cuma asal yang harganya murah, modelnya bagus trus langsung beli. Disini merk yang diusung juga menentukan, semakin baik reputasi merk tsb, berarti kualitasnya cukup bisa dipercaya, soalnya ada grade-grade kualitas bahan memory dari flashdisk tsb, disini uang memang nggak bisa dibohongin, belum lagi kesempurnaan manufakturnya (pengerjaan sampai menjadi produk utuh). Acuannya merk-merk yang bagus adalah merk yang paling sering kita dengar deh untuk kategori produk IT.

2. Lihat juga garansi yang ditawarin, semakin lama semakin bagus soalnya flashdisk itu nggak bisa diservis, jadi kalo rusak ya langsung diganti baru, nah kalo garansinya cuma sebentar berarti kita harus siap-siap gigit jari beli yang baru dengan kocek sendiri. ada beberapa merk yang nawarin garansi antara 1 tahun, 5 tahun bahkan lifetime. tapi jangan tertipu, lifetime disini maksudnya selama seri produk yang sama masih diproduksi oleh perusahaan yang bersangkutan.

Bersambung …